I Love My Children…

Nggak kerasa uda sekitar 3 tahun ini aku punya anak. Semakin lama, anak-anakku semakin banyak dan aku semakin sayang sama mereka. Waktu kelas 2 SMA dulu, pertama kali punya anak jumlahnya sekitar 70-an…tapi yang paling dekat sekitar 20 anak. Yep, merekalah yang setiap sore aku ajar secara langsung di Faslu Tsalis (Kelas Tiga) Taman Pendidikan Al-Quran Darussalam, Landungsari – Malang.

Entah kenapa yah, tau-tau pengin nulis tentang anak-anakku ini^^. Mungkin karena beberapa bulan belakangan jarang banget bisa ketemu sama mereka. Kegiatan kampus sudah sepenuhnya menyita waktuku. Tapi hari ini, Minggu 28 Desember 2008 aku berkesempatan lagi berkumpul sama mereka semua…=D Yep, hari ini di Landungsari, tempat tinggalku, ada Kirab Muharram—pawai keliling memperingati Tahun Baru Hijriah 1430 H. TPQ tempatku mengajar jadi salah satu peserta dan untuk ke-3 kalinya aku mendampingi mereka lagi dalam acara tahunan ini.

Kemarin sore aku datang ke masjid. Setelah sekian lama gak menjejakkan kaki di sana…anak2 langsung menghambur minta pelukan. “Ustadzah Umiii…!!!” begitu teriak mereka. Kholifah, Shintya, Aisyah, Winda, dll mantan santri-santriku Faslu Tsalis…feels like miss them so much… =)

Berapa bulan ditinggal, masjid dan TPQ ini belum banyak berubah. Ada beberapa santri baru yang gak aku kenal…tapi yang menyedihkan, lebih banyak santri lama yang udah gak ngaji lagi…=(

Masjid dan TPQ Darussalam. Terlalu banyak kenanganku yang ada di sana. Sejak pindah ke Malang kelas 3 SD, orangtuaku langsung mengajakku dan adik-adikku mengaji di tempat ini. Di situlah pertama kali aku mengenal Ustadz-Ustadzah ku, yang hebatnya sampai sekarang masih tetap mengajar. Mereka masih ada di sampingku, semenjak aku menjadi santri mereka hingga sekarang menjadi rekan kerja sesama Ustadz(ah).

Ada banyak hal yang tertinggal di sudut-sudut masjid itu. Biarpun sekarang sudah banyak berubah, tapi bayangan-bayangan masa kecilku masih tertanam di sana. Di karpetnya, ketika kami duduk di sana, belajar mengeja huruf Al-Quran bersama. Di kusen jendelanya, ketika kami shalat Shubuh dan Tarawih bersama saat bulan Ramadhan. Di jejak lantainya, ketika kami berlarian main gobak sodor saat istirahat. Di lapangan depannya, ketika kami berkejaran main ‘bentengan’ dan ‘gebogan’. Di piala-piala yang berderet di kantornya, ketika kami berjuang mengikuti puluhan kompetisi dan berhasil meraih gelar.

Itulah masa-masa jaya kami. Masa kejayaan TPQ Darussalam sebagai sebuah institusi pendidikan Islam nonformal, yang menghasilkan puluhan santri berprestasi. Tempatku belajar, bermain, mengenal Tuhan, bahkan mengenal cinta…=)

Aku pun nggak bisa menolak ketika 3 tahun lalu untuk ke-sekian kalinya, Kepala TPQ memintaku kembali ke sana. Sebagai pengajar, tentunya. Aku bertemu anak-anakku…para penerus TPQ yang melanjutkan rangkaian prestasi kami. Sungguh bersyukur, pada setiap generasi selalu ada santri-santri yang bisa diandalkan. Selalu ada yang berhasil meraih juara, mengharumkan nama TPQ kami, dan membuat kami nggak merasa sia-sia sudah membimbing mereka.

Tapi sekarang…

Aku udah nggak bisa ngajar lagi. Udah jarang banget waktu luang sore hari yang bisa dihabiskan bersama mereka. Nggak bisa lagi aku ajarin mereka hukum-hukum Fiqih. Huruf-huruf Tajwid. Hadits-hadits Nabi. Atau sekedar bercerita tentang kisah para Rasul. Atau sekedar bermain bersama di lapangan. Di bawah pohon-yang-aku-nggak-tau-namanya, tempat kami bermain game tiap Jumat sore, atau sekedar mendongeng tentang sejarah ke-Islaman…

Hwaaa…kenapa jadi melankolis begini sih… >,<

Suatu saat aku mau bikin sekolah. Itu sudah pasti.

Dan namanya, “DARUSSALAM”.

Negeri Penuh Keselamatan…

2 comments

  1. ga nyangka km bener bener cwe super…..
    kuat bgt melahirkan 70 orang anak…..
    apa g sakit miii???

    two thumbs 4 u!!!!!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *