Para Pencari Tuhan

Well, I’m just trying to tell you some matters about God. Since CBDC II is going on in my campus, think that I should share some discussion to y’all.

Okay let me start with religion. I’m MOSLEM. You know that. Aku berkerudung, dan itu yang menyebabkan keyakinanku sangat mudah dikenali. Sejak kecil aku dibesarkan di lingkungan muslim taat dan selalu belajar di sekolah Islam yang mewajibkan siswinya memakai kerudung.

Cukup tentang itu? Tentu saja enggak.

Waktu SD, aku religius banget. Kata ibuku, ketinggalan shalat Shubuh aja sampe nangis2 gak karuan. Tapi emang bener, ketika masih kecil bagi kita Tuhan terlihat lebih sederhana. Tuhan ya Tuhan. Tuhan adalah tempat berlindung ketika kau dalam kesulitan dan tempat meminta ketika kau butuh pertolongan. Itu saja. Pikiranmu masih nggak nyampe ke pertanyaan seperti ‘mengapa ada Tuhan?’, ‘mengapa agama bermacam2?’, atau hal2 rumit semacam itu.

Menurutku anak kecil adalah orang yang paling beriman di antara semuanya. Orang yang paling memahami Tuhan, paling merasakan keberadaan Tuhan. Karena Tuhan menjadi lebih mudah dipahami ketika pikiranmu lebih sederhana.

Memang betul. Ketika beranjak dewasa dan pikiranku mulai kompleks, aku mulai meragukan keberadaanNya. Memakai kerudung tidak menjamin bahwa keimanan seorang muslimah amatlah kuat. Well, aku nggak memungkiri pernah mengalami satu periode di mana aku menjadi nyaris agnostis (dulu bilangnya atheis, tapi setelah mengerti istilah baru ini rasanya agnostis lebih pas). Tepatnya sekitar SMP.

Bersekolah di Madrasah gak menjamin keyakinanku semakin tebal. Malah aku rasa pada periode inilah imanku ‘sangat kering’. Aku nyaris gak pernah shalat 5 waktu. I was a really bad girl. Coba deh tanyain satu2 guru SMP-ku, dijamin nyaris semua bakal mengatakan hal2 bengal yang pernah aku lakukan.

Tentu saja ini dipengaruhi oleh kepribadianku yang pada dasarnya gampang penasaran. Gampang mempertanyakan segala sesuatu yang tampak ganjil. Didukung hobi membaca, menonton, dan mendengar hal2 berbau Barat keyakinanku akan Tuhan sedikit demi sedikit tergerus. Hmm…kadang2 kalo baca tulisan, curhatan, dan puisi2 waktu SMP rasanya kayak nemuin orang ‘tersesat’…

Nah. Waktu SMA aku sekolah di sekolah umum. Anehnya, justru di sinilah imanku mulai bertambah. Karena sekarang aku punya teman yang gak pake kerudung dan bahkan berbeda agama. Keinginan untuk membuktikan diri dan menunjukkan ‘aku bukan muslim sembarangan’ mulai muncul. Gak mungkin lah sebagai muslimah berkerudung terus aku gak pernah shalat gitu? Meskipun banyak teman2ku yang melakukannya tapi aku gak mau. Karena ini bukan hanya menyangkut namaku, tapi juga nama keluargaku dan agamaku.

Well, ritual gak jadi masalah. Aku rasa aku sudah menjalankan rukun Islam satu sampai empat dengan baik. Tapi lagi2, aku belum merasa mengenal Tuhan seutuhnya. Aku belum benar2 mengenal Allah secara utuh. Waktu mengucapkannya, rasanya masih seperti ‘asing’. Meskipun dalam sehari berpuluh bahan beratus kali aku melafalkan namaNya, tapi hatiku masih belum bergetar. Belum. Aku ingin sekali merasakannya seperti teman2ku yang lain tapi belum bisa.

Menangis waktu shalat, misalnya. Pernah sih aku melakukannya, tapi itu karena masalah yang sedang kuhadapi, bukan murni karena aku ingat Allah. Kadang2 pada waktu2 tertentu aku benar2 melupakanNya dan menaruh Dia entah di mana. Kadang2 waktu shalat aku nggak pernah sadar bahwa aku sedang menghadapNya dan aku cuma seperti robot yang melafalkan doa2 untukNya tanpa benar2 menatap mataNya. Seperti orang yang mengajak bicara tapi berpaling dari lawan bicaranya. Bagiku, SHALAT KHUSYUK itu benar2 sulit…!!!

Ada orang yang begitu mencintai Allah karena pernah Dia tolong. Tapi aku nggak pernah mengalami masalah yang bener2 besar dan lolos darinya sampe membuatku merasakan bahwa tangan Allah itu benar2 ada dan menolongku. Aku nggak pernah mengalami kejadian religius seperti itu! Apakah karena keyakinanku terlalu dangkal untuk menyadari pertolonganNya? Apakah hatiku terlalu dingin untuk merasakan cinta kasih Allah yang selalu menyentuhku? Apakah karena jejaring otakku yang gak pernah berhenti menjalar ini mulai menggerogoti imanku yang semakin keropos?

Kadang2 aku berharap diberi cobaan yang begitu besar, yang aku nggak sanggup memikulnya, supaya aku sadar bahwa Allah membimbingku dan selalu ada di sampingku. Bahwa ada yang menyayangiku dan menuntunku. Bahwa aku nggak bisa apa2 tanpa campur tanganNya. Belakangan aku mulai merasa semuanya begitu mudah dan aku nggak butuh siapa2 untuk menggapai apa yang aku inginkan. Cukup dengan memikirkannya, dan Law of Attraction akan menariknya untukmu.

Jauh di dalam aku yakin Tuhan itu benar2 ada, tapi aku nggak pernah benar2 merasakan kehadiranNya sampai betul2 menggetarkan hatiku dan membuatku bersedia sepenuh hati mengabdi padaNya. Jauh di dalam aku pengin membuktikan sendiri bahwa GOD DOES EXIST. Tapi aku nggak mau buktiin pake akal. Aku pengin merasakan sendiri. Aku pengin merasakan pengalaman religius yang luar biasa. Aku pengin nangis karena Allah. Aku tau aku ini emosional banget tapi anehnya aku nggak bisa bersikap begitu karena Allah. Rasanya ada yang kurang. Rasanya kayak ngambang di awang-awang. Rasanya iri gimana teman2ku bisa begitu mengenal Tuhan mereka sementara aku enggak.

Kayaknya aku harus berhenti BERPIKIR dan mulai MERASA.

2 comments

  1. 4 paragraf terakhir…

    Jangan sampe lah digituin dulu baru kita mengenal Dia… Jangan sampe kita jadi setara dengan Fir’aun dan musuh-musuh Nabi lainnya yang baru menyadari kekeliruannya setelah diazab…

    Keep on spirit…

  2. Well, posting yang cukup menarik…

    Tambah pinter, tambah kompleks pikiran, tambah bingung konsep KETUHANAN. Setuju! Nggak jauh berbeda.

    Ngomong-ngomong Law of Attraction, gimana kalo sudut pandangnya diubah jadi gini, yang bikin Law of Attraction itu terjadi juga karena Tuhan… LoA juga sistem yang dibuat Tuhan…

    Request: Terjemahin http://en.wikipedia.org/wiki/Agnosticism dunk… Males baca…

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *