Poligamy in Islamic View

Well, this post is dedicated to anybody who wishes to know more about polygamy in Islam. Since one of my lecture point this topic I wrote in previous post, I decide to explain about Islamic polygamy in detail.

Banyak orang protes, mengapa poligami dibolehkan? Ya, poligami memang secara sah DIBOLEHKAN, bukan DIANJURKAN. Jelas dan gamblang sekali Allah menjelaskan di QS An-Nisa’ ayat 3:

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan yang yatim, maka nikahilah wanita2 yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka seorang saja, atau budak2 yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

Ada alasan tentunya mengapa seseorang boleh berpoligami (well, istilah yang tepat sebetulnya poligini, yaitu seorang pria menikah dengan lebih dari 1 wanita. Kalau poliandri=seorang wanita menikahi lebih dari 1 pria. Poligami=menikah dengan lebih dari 1 pasangan. Baik poligini maupun poliandri keduanya termasuk poligami. Tapi karena sudah terlanjur salah kaprah… apa boleh buat -_-“).

Misalnya jika istrinya gak mampu memberikan keturunan. Atau gak mampu melayani nafkah batin suami. Atau untuk mengangkat derajat wanita janda dan anak2 yatim yang dibawanya, menafkahi dan melindungi mereka. Dan perlu diingat, untuk melakukannya gak asal cablak aja ya. Ini yang disayangkan kenapa banyak orang memposisikan poligami seolah2 seperti “seenaknya kawin lagi”, “asal nyaut istri baru”, dsb, dkk, emangnya kita ini kebo apa??? Kalo kebo mau kawin ya kawin aja. Gak perlu ribet minta izin istri pertama, menafkahi secara adil, membagi waktu secara proporsional, dll. Poligami itu bukan sekedar menikah lagi, Sodara2. Ada aturannya, ada syaratnya yang kalo dilanggar malah bikin dosa.

Di ayat Al-Quran di atas udah jelas diterangkan, kalo nggak bisa berbuat ADIL, mending gak usah nikah lagi deh. Kalo gak punya cukup duit, siap secara mental, finansial, emosional, intelektual, dan spiritual mending gak usah poligami. Daripada maksain malah jadi dosa? Nah, sekarang jadi muncul pertanyaan. Kalo emang dasarnya monogami itu lebih baik, kenapa poligami dibolehin?

Well, ada tiga alasan seenggaknya. Ini kesimpulan pribadi, hasil membaca-baca beberapa buku poligami.

Pertama. Anda pernah belajar Biologi, khususnya Genetika? Anda tahu bahwa laki2 memiliki kromosom kelamin bergenotip XY, dan perempuan XX? Anda tahu bahwa kromosom X lebih mudah hidup pada lingkungan bersifat asam, sifat alamiah pada organ reproduksi wanita? Anda tahu bahwa kromosom Y hanya bisa hidup di lingkungan basa, kondisi yang jarang terjadi pada organ reproduksi wanita, kecuali saat orgasme? Intinya adalah: Bikin anak cowok itu lebih SULIT daripada bikin anak cewek, dan karenanya WAJAR kalo dari dulu sampe sekarang jumlah wanita selalu lebih banyak daripada pria, dan karenanya WAJAR pula jika suami beristri dobel lebih BANYAK daripada istri bersuami dobel.

Kedua. Anda tahu pria diciptakan dengan hasrat seksual menggebu-gebu, bergejolak, selalu minta disalurkan—sungguh merepotkan dan menyusahkan -_-“. Nah, apa yang terjadi jika pria berlebih nafsu ini tidak terpuaskan? Jawabannya mudah sekali, semudah menemukan poster caleg saat kampanye pemilihan. Anda tahu kasus perselingkuhan? Pemerkosaan? Prostitusi? Atau bahkan Anda pernah melakukannya sendiri? Itu adalah akibat dari hasrat pria yang tidak tersalurkan pada tempatnya.

Heran juga ya, kenapa orang2 seperti lebih mudah memaafkan suami yang berselingkuh daripada suami yang berpoligami? Ketika seorang pria berselingkuh, maka ia mencari kepuasan seksual tanpa ingin terikat pada tanggung jawab. Gampangannya begini,” Aku nge-seks sama kamu, aku puas, kamu puas, tapi jangan paksa aku bertanggung jawab. Kamu mau duit? Aku kasih. Tapi kalo kamu hamil, jangan panggil aku bapaknya. Kamu gugurkan, silakan. Nggak mau aborsi, jangan harap aku mau nafkahi. Jangan pernah minta warisan biar dia darah dagingku. I just wanna having fun. Free, tanpa ikatan.”
Lihat kan betapa PENGECUT-nya pria2 macam itu?

Nah, sekarang bandingkan dengan kasus ini. “Aku tertarik sama kamu. Tapi aku nggak mau kita berhubungan tanpa ikatan. Aku nggak mau kamu terlunta-lunta. Kalau kamu cuma kujadikan simpanan, status anak kita nggak jelas. Aku bisa nafkahi kamu tapi nggak bisa mengangkat derajatmu. Aku nggak mau itu. Aku mau bertanggung jawab atas apa yang aku perbuat. Jadi aku nikahi kamu, kita bisa berhubungan dengan sah dan aman. Aku terikat secara resmi padamu.”
See, mana yang lebih bertanggung jawab???

Nggak benar sebetulnya kalo poligami dibilang merendahkan derajat wanita. Lha, jadi wanita simpanan sama jadi istri resmi ya jelas lebih terhormat jadi istri resmi toh? Mana sih yang lebih menyakitkan sebagai seorang wanita, ketika kamu dihadapkan pada suami yang sok2 berlagak setia di hadapanmu, tapi di belakangnya selingkuh sama pelacur2 murahan dan punya banyak simpanan? Atau suami yang jujur mengakui kalo dia jatuh cinta sama perempuan lain, tapi mau bertanggung jawab dan menikahinya secara terhormat? Mau terus dibohongi dan berlagak harmonis, atau mau diberi kejujuran biarpun menyakitkan?
Well, itu pilihan. Dan pilihan perempuan memang nggak pernah mudah.

Ketiga. Anda tahu beberapa wanita tidak dapat melahirkan keturunan? Anda tahu beberapa wanita mungkin terkena penyakit dan tidak bisa melayani kebutuhan biologis suami? Tapi suami masih mencintai dia, dan nggak mau menceraikan dia. Tapi suami juga butuh nafkah batin, butuh anak kandung. Solusinya nggak perlu berselingkuh. Dia bisa menikahi satu wanita lagi.

Well, kesimpulannya poligami bukan sembarang lakon. Bisa dibilang ini adalah jalan keluar secara sah untuk menghindari zina a.k.a. seks bebas. Pelaku poligami dibebani tanggung jawab yang sangat besar. Bukan seperti pelaku seks bebas yang seenaknya mencampakkan wanita yang udah dia ‘campurin’. Waktu milih istri baru pun harus betul2 dipikir, sama seperti ketika pilih istri pertama. Dilihat bibit, bebet, dan bobotnya. Jadi bego banget kalo ada orang yang dengan lugunya menyamakan poligami dengan seks bebas, apalagi sampe menuduh bisa menularkan PMS. How dare!

Tapi sekali lagi, poligami itu bukan ANJURAN, apalagi kewajiban, tapi hanya emergency exit untuk kasus2 tertentu. Kalo dengan satu istri aja udah bisa hidup bahagia, kenapa harus nambah lagi?

2 comments

  1. I am impressed. You manage to explain a difficult issue in simple ways. You make the point I guess. Thanks for posting.

    Patrisius

  2. pro kontra poligami jika anda bingung tekadkan satu keyakinan yang anggap anda sesuai dengan aturan islam

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *