Konsep ‘Collective Wealth’ untuk ‘Sandwich Generation’

Tulisan ini bermula dari sebuah jawaban thread di Quora yang cukup menggelitik pikiran (bisa cek di sini). Intinya si Quoran memaparkan bahwa “prinsip hidup mandiri” itu ternyata bisa membuat kita menjadi lebih miskin. Loh, kok bisa?

Misalkan satu keluarga memiliki aset sebuah rumah dan pekarangan. Mereka punya tiga anak. Saat anak2nya besar, dengan dorongan “prinsip hidup mandiri” semua anak keluar dari rumah induk orangtua. Ini seperti prinsip orang Barat di mana kalau sudah umur 18+ normanya harus “get out from your Mom’s basement”. Kalau sudah umur 30+ dan masih tinggal di rumah ortu rasanya kok malu-maluin banget. Mirip lah sama kita, normalnya kalau lulus kuliah ya merantau, cari kerjaan sendiri dan hidup terpisah dari ortu.

Namun seperti yang kita tahu, jumlah tanah tidak mungkin bertambah tetapi jumlah penduduk bumi pasti bertambah. It’s getting harder to afford houses and lands. Walhasil, setelah orangtua meninggal, rumah dan tanah induk itu dijual lalu dibagi ke tiga anaknya untuk hidup sendiri2. Dapatnya tentu tak bisa sebagus/seluas rumah induk. Semuanya mulai dari awal lagi.

Padahal, jika mengikuti konsep “collective wealth”, maka rumah dan tanah induk itu tidak perlu dijual. Itu adalah aset keluarga. Silakan saja ketiga anak tinggal bersama-sama di rumah tersebut. Biaya hidup sehari-hari akan lebih murah karena ditanggung bersama, bukannya terpisah-pisah. Tanah yang ada bisa dimanfaatkan untuk usaha. Hasil usaha digunakan untuk mengembangkan aset keluarga, sehingga harta warisan ortu itu tidak akan berkurang malah bertambah terus. Misalkan dulu tanahnya digunakan untuk “angon bebek”, maka bisa menambah lagi tanah untuk jadi pabrik telur asin misalnya. Anak pertama mengurusi peternakan bebek, anak kedua mengurusi pabrik telur asin, anak ketiga mempunyai usaha resto serba salted-egg. Ideal sekali ya kalau sebuah keluarga bisa menguasai satu industri dari hulu ke hilir.

Namun tentunya kondisi ideal seperti ini juga menuntut pola asuh keluarga yang sudah ditanamkan sejak dini oleh orangtua. Hambatan terbesar adalah ego masing2 anak misalnya “aku gak mau ternak bebek maunya jadi pengacara di kota”. Sebenarnya gakpapa juga sih, misalkan gajinya sebagai pengacara diputar lagi di bisnis keluarga itu. Tapi yang paling penting adalah semua anak bisa bekerja sama, bukannya mau menang sendiri dan malah rebutan warisan. Kalau itu yang terjadi, ya jelas tidak mungkin konsep collective wealth ini bisa terjadi.

Mengapa banyak keluarga kaya tetap kaya sampai sekian turunan, itu ya karena mereka menganut konsep ini. Anak adalah penerus ‘kerajaan bisnis’ orangtua, kewajibannya adalah ‘menggulung’ kekayaan keluarga dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Mungkin karena itu juga rata2 mereka punya banyak anak, in case ada yang gak mau, paling tidak ada 1-2 anak yang mau mengemban tugas itu. Tentunya konsep ini sangat bertentangan dengan ‘prinsip hidup mandiri’ tadi. Tapi kalau dipikir2, kalau kita punya privilege dari orangtua, ngapain juga susah2 hidup dari nol ya gak?

Lalu…apakah hubungannya konsep ‘collective wealth’ ini dengan ‘sandwich generation’? Yaa kita tahu anak jaman now banyak juga yang jadi ‘sandwich generation’ (menanggung biaya hidup keluarga sendiri plus keluarga ortu/adik/kakak) karena ketidakmampuan finansial orangtua di masa lampau. Sebenarnya mereka2 yang jadi tulang punggung keluarga ini memiliki kesempatan untuk menciptakan ‘collective wealth’ baru bagi keluarga mereka. Posisi tulang punggung memang berat, tapi jangan dijadikan beban ya. Justru kamu punya peluang untuk menciptakan ‘harta keluarga’. Supportmu jangan berhenti di menanggung biaya hidup dan biaya pendidikan adik2mu. Kalau perlu, kamu bantu juga memodali bisnis untuk orangtua/adik2mu. Tentu saja pastikan bahwa keluargamu punya skill yang cukup untuk mengelola bisnis itu ya, kalau enggak ya bakal menguap aja modalmu. Buatkan bisnis yang in-line, misalkan ortumu buka toko kue dan adikmu buka toko perlengkapan kue. Jadi bisa saling support dalam bisnisnya.

Kalau bisnisnya berkembang, kamu juga yang untung. Mereka sudah bisa self-sufficient jadi kamu gak perlu support dana lagi. Bahkan mungkin kamu bisa dapat keuntungan sebagai investor bisnis mereka. Yaa intinya kalau kita punya rezeki/wealth, sebisa mungkin rezeki itu ‘diputar’ di keluarga sendiri dulu. Jangan dihabiskan untuk kepentingan pribadi saja. Belajar mengelola harta kita agar bermanfaat untuk orang lain, terutama keluarga dan sanak saudara, supaya bisa menjadi amal jariyah untuk kita kelak. Aamiinnn….

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *