Posted by uMy in Indonesia, Life's Diary | 7 Comments
Landungsari, Desa di Batas Kota
Di Landungsari kamu bisa melihat deretan perumahan, ruko, dan pasar seperti tiada henti dibangun. Di Landungsari pula kamu bisa melihat hutan bambu yang rapat, serta sawah yang hijau membentang. Di Landungsari kamu bisa melihat potret mahasiswa dan pekerja urban, berbaur dalam keramaian kota yang ingar bingar. Di Landungsari pula kamu bisa melihat para petani menuntun sapi-sapinya di tengah jalan. Landungsari adalah sepotong paradoks, sebuah desa di batas kota.
Meskipun statusnya “Desa” di bawah Kecamatan Dau dan masuk wilayah Kabupaten Malang, tapi Landungsari sangat dekat dengan kota. Di sini ada Terminal Landungsari yang sempat jadi sengketa antara pemerintah Kota dan Kabupaten. Ada juga daerah kos-kosan mahasiswa yang jaraknya “tinggal loncat” dari Univ. Muhammadiyah (padahal UMM ada di Kelurahan Tlogomas-Kecamatan Lowokwaru-Kota Malang). Ada juga jalan perbatasan yang biar rame tapi gak pernah diaspal, karena pemerintah Kota dan Kabupaten pada gak mau ngalah tuk ngaspalin.
Landungsari itu unik. Di sini kamu seperti melihat proses “suksesi peradaban”, peralihan dari desa ke kota. Landungsari punya 3 dusun; Klandungan, Bendungan, dan Rambaan. Dusun Klandungan adalah potret “ndeso”nya Landungsari. Masih banyak sawah, ladang, hutan bambu, dan sungai di sini. Penduduknya juga relatif lebih miskin dan kurang berpendidikan. Dusun Bendungan ada di tengah2. Sawah dan ladang masih banyak dijumpai, tapi mulai tergerus oleh pembangunan perumahan dan pasar desa. Penduduknya campuran antara pendatang (sebutannya “wong perumahan”) dan penduduk asli (“wong kampung”). Sedangkan Rambaan adalah Dusun yang paling “meng-kota”. Hampir tak ada sawah lagi di sini. Semua berubah jadi ruko, rumah kos, warung, fotokopian, rental, warnet, dan laundry. Rambaan adalah “kampung mahasiswa”. Denyut nadi para mahasiswa UMM pusatnya ada di sini. Makanya, kalau pas musim mudik, dusun ini dipastikan sepi mamring!
Dengan segala keunikannya ini, saya senang tinggal di Landungsari. Kita masih bisa beli jagung dan ubi langsung dari pak tani di sawah, tapi juga gak perlu jauh-jauh untuk reparasi laptop atau beli modem. Kita bisa lihat Gunung Kawi, Arjuna, dan Bromo-Semeru, juga bisa nongkrong di kafe Wi-Fi di desa yang sama. Pokoknya Landungsari itu komplit. All in one! What you need for life is here. Kelemahannya cuma letaknya cukup jauh dari pusat kota, jadi kalau mesti ke kantor2 di sana lumayan ngabisin waktu (dan bensin).
Landungsari is my hometown. Eventhough I wasn’t born here, but the most precious memories of my life had happened here
God Bless Landungsariiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!




Hidup Kabupaten Malang!! Vote Umi jadi bupati!!
wik sesama kabupaten-ers :0
kalo ak jadi bupati ibukotanya tak pindah dari kepanjen ke landungsari hahaha
waah … sekarang ada gapura gitu ya.
jadi kangen bgt liatnya …
padahal cuma setahun gak pulang
btw, rumahku eh rumah ortuku jg di Landungsari ^^
lho iya tah mbak…??
wah tetangga ternyata…
landungsari sebelah mana mbak?
tulisannya bagus banget mbak,,, ngingetin betapa senin pagi adalah perjuangan buat aku,,, pagi2 pe di terminal Landungsari (Solo 12.00 pm – Jombang 03:00 am – Malang) trus disempetin nyeruput segelas kopi item,,, langsung masuk kelas!
wow sampeyan anak solo yang kuliah di UMM nih ceritanya?
waaahhh…iyyaaa..landungsari juga ngangenin..Terminal Landungsari juga unik..sepi semriwing gak kayak terminal yang biasanya rame
Ga juga sih mbak,,, sakjane q malah aseli kera ngalam – Wendit – skarang domisili di Pangkalan Kerinci (cb cari ndiri dah,,, masi di Indonesia kq!)
dibandingin ma ngalam bumi langit wis!!! so, begitu nemuin tulisane mbak,,, seolah2 q bener2 pulang,,, udaranya,,, airnya,,, pohonnya,,, orangnya,,, trus tiba2 berubah jadi,,, macetnya,,, rukonya,,, mallnya,,, hfhhhhhh,,,
Btw tetep salam sak jiwa ae ma mbak,,,