Kisah Seekor Sapi

Aku sapi dan aku sehat. Aku besar dan aku kuat. Biar dagingku gak banyak tapi lumayanlah buat disantap. Heyyy…and now I’m here…diiket di bawah pohon mangga di samping musholla Al-Ummiroh…menanti saatnya tiba untuk masuk surga…aiiihhh indahnya…*berbinar-binar*

Wah skarang sudah hampir jam 8 pagi. Adik2ku para kambing ceria, yang smalam menghiburku dengan ‘mbaakkk mbeeekkk’ orkestra, sudah jauh meninggalkan dunia fana. Lihat itu, tinggal daging2nya saja yang sekarang sudah ‘dibeteti’, ditimbang, dan dibungkus kresek rapi. Temanku Si Sapi Belang baru saja menghilang. Kulihat dari sini tinggal kepalanya saja sekarang. Hufff…dan dua pria itu sedang menuju kemari… Bismillahirrahmanirrahim…giliranku sudah tiba!!!

Aku Si Sapi Putih, kuat dan gagah. Aku lahir dari Allah, matipun kembali padaNya. Aku sapi yang beruntung. Bermiliar-miliar sapi (masa sih?) lahir di seluruh dunia. Tidak semuanya berakhir manis sepertiku. Beberapa mati kelelahan membajak sawah. Beberapa dicambuki di arena karapan Madura. Sisanya merumput liar di padang dikejar2 singa (opo iyo? hehehe).

Takdir manis sedang menjemputku. Karena itu, ketika dua pria itu menggiringku menuju ‘arena eksekusi’, aku tenang dalam langkahku. Sudah ada yang menungguku di sana. Pria-pria penjagal, orang2 yang berkerumun hendak menonton, dan…heyyy siapa itu. Ada gadis manis bercelana pink memandangku. Sambil memeluk adiknya dia tak henti mengamati diriku. Aihhh…jangan2 dia yang akan menulis kisahku…ihihihi (itu saiaaa—Red, huehehe^^)

Pria2 ini profesional. Mereka mulai memasang simpul2 di bagian strategis tubuhku. Di sekitar tandukku. Di perut bagian belakangku. Di kaki belakang dan depanku. Semuanya disatukan lalu….hap, aku dibaringkan. Aku tidak meronta. Tidak pula berontak. Lagipula buat apa? Aku ini mau masuk surga. Kenapa harus menolak?

Tidak seperti sapi2 lain, aku tahu mau ke mana jalanku. Setiap tiba ‘musim potong’ begini, teman2ku banyak yang histeris. Lari. Kabur. Ucul. Waktu pisau jagal tinggal sejengkal…ehhh talinya malah putusss talll…sapi lari tunggang langgang. Tapi aku tidak seperti itu. Sejak lahir aku tahu mau dibawa ke mana hidupku. Aku bersyukur dilahirkan di tengah keluarga sapi yang baik…di tangan para gembala jujur…memberiku makan dari rumput segar yang halal…dan memperkenalkanku pada nuansa Tuhan…

Semasa muda, setahun sekali ku melihat saudara2ku yang lebih tua digiring ke pasar hewan. Di sana mereka akan ditawar. Dibeli oleh blantik sapi atau langsung oleh sang dermawan. Aku bertanya…ada apa? Mau dibawa ke mana mereka?

“Ke surga…” seseorang menjawab. Hari itu, 10 Dzulhijjah setiap tahunnya, para dermawan menyisihkan harta mereka. Membeli kami, menyembelih dan membagi-bagikannya pada kaum papa. Yang hanya setahun sekali bisa makan daging sapi dan domba.

Tuhan…betapa beruntungnya mereka. Kalau dagingku ini juga bisa mengenyangkan perut yang keroncongan, sungguh bahagia bila hidupku berakhir di sana.

Sejak itulah, aku bercita-cita jadi hewan kurban. Hingga suatu malam, mimpiku pun menjadi kenyataan. Dan di sinilah aku sekarang, Teman. Di depan sebuah musholla kecil di suatu perumahan. Kaki-kakiku sudah diikat, badanku sudah dibaringkan. Sungguhpun itu semua tak perlu, karena aku rela mati dikurbankan.

Seorang pria memegangi erat leherku. Menarik kulit yang menggelambir dan mengencangkannya hingga leherku telanjang. Lalu dihalanginya leherku dengan daun pisang. Pria lain memegang kepalaku. Pria satunya siap dengan pisau di tangan. Membaca doa sambil memegang secarik kertas…menyebut nama hamba2 yang telah berkurban.

Takbir masih terus dikumandangkan. Seorang bapak memegang wireless mic di depanku sambil berseru lantang. “Allahuakbar…allahuakbar…allahuakbar… Laa ilaha illallah…Huwallahu akbar…Allahuakbar wa lillaahil hamdu.”

Tuhan…inilah jalan yang sudah kupilih…aku akan kembali ke surgaMu…

Pria pemegang pisau selesai berdoa. Mata pisaunya sekarang sudah menyentuh kulit leherku. “Bismillahirrahmanirrahim…” desisnya. Dan mata pisau itu pun mengiris kulit putihku, menembus daging dan tulangku, hingga akhirnya mengoyak pembuluh aorta-ku. Aku sadar…bahkan matakupun terbuka…tapi aku tidak meronta. Aku bahkan tidak tahu apakah aku merasa sakit atau tidak. Untuk terakhir kalinya, aku hanya melihat bayangan orang2 di sekitarku yang tampak ngeri melihatku. Dan gadis bercelana pink itu… Dia mengamati darah segar yang memancar dari nadiku…Dalam hatinya dia bertanya2, mengapa darahku tidak muncrat ke mana2, seperti yang biasa dia lihat di sapi2 sebelumnya. Darahku hanya mengenai daun pisang ini, dan membasahi kulit kepalaku, tapi tidak begitu deras sampai mengenai orang2 di sekitarku…Ah andai aku bisa mengatakannya padamu…aku mati dengan sukarela…ikhlas menuju surgaNya…jiwaku damai, darahku mengalir dengan tenang… Membasahi bumi dengan anugerah tulusnya pengorbanan…

Setelahnya aku tidak ingat apa2. Sakaratul maut bagiku tidak menyakitkan. Karena itu adalah jalan bagiku kembali kepada Tuhan. Ketika kembali tersadar…tiba2 aku sudah melayang di atas sini. Melihat jasadku yang kini dikuliti. Isi perutku semua dikeluarkan. Dagingku dipotong dan dibagi-bagikan. Hai para kaum papa di bawah sana…berterima kasihlah pada para dermawan…dan nikmatilah dagingku ini dalam rahmat Tuhan…

Aku pun tersenyum dengan air mata. Malaikat maut memapahku tanpa hisab, langsung menuju surga…

(Catatan Hari Raya Idul Adha 1429 H. Melihat sapi yang begitu tenang saat mau dikorbankan…I wonder what he/she really feels…)

1 comment

  1. Hmm, bagus sekali postingan ini. Kreatif, jadi sapi dulu baru nulis blog. Amalnya pasti berlipat ganda. Hmm, bagus!

    Patrisius

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *