Menyenangkan Semua Orang

Kenapa aku nulis ini?
Karena kayaknya aku harus mengatur ulang prinsip hidupku.
Jadi begini.

Kebetulan saya orang yang…well, katakanlah–gak suka cari musuh. Selama saya masih merasa nyaman denganmu, selama kamu tidak sangat menyakiti saya, saya selalu bisa berteman denganmu. Gak peduli semua asal-usul dan atribut yang kamu pakai, saya akan menilaimu sebagai seorang manusia seutuhnya, tanpa embel-embel apa2. Saya akan menelanjangi semua persepsi, stigma, dan sejenisnya pada orang2 semacam kamu dan saya akan mencoba menilai dirimu karena KAMU, bukan latar belakangmu.

Kadang2 saya seperti Ayah saya, berusaha menyenangkan semua orang.

Dan sebetulnya…itu bukan hal yang sepenuhnya bagus. Ketika saya ingin menyenangkan seseorang, maka saya cenderung ‘menuruti’ apa yang dia senangi dan menekan argumen saya sendiri…sehingga lama kelamaan saya jadi kayak orang gak berpendirian.

Demikian pula ketika saya ingin menyenangkan orang lain, maka saya akan ‘manggut2’ saja di depannya dan bertindak sesuai dengan yang diinginkan…meskipun itu sebenarnya bertentangan dengan orang pertama tadi.

Di situlah masalah saya sekarang.

Saya terlalu ingin berteman dengan semuanya. Padahal gak semua orang itu sama. Mau gak mau saya harus menyesuaikan diri dengan pemikiran masing2 kan? Bahkan meski pemikiran satu dengan yang lain itu berseberangan…

Jadinya kayak orang munafik kan?
Bisa nempel sana, bisa nempel sini juga.

Padahal bukan itu yang saya inginkan.
Tentu saja saya punya argumen sendiri tapi kadang2 itu jadi luluh ketika saya berusaha “menyenangkan orang lain”. Saya akan menyimpan pendapat itu dan berpikir…”ah, nanti saja saya utarakan.” Saya cuma manggut2 saja dengan pendapat orang itu dan gak bisa langsung membantah karena ingin memberi citra baik.

Citra. Imej. Oh, BULLSHIT.

Bener emang. “Kita nggak bisa menyenangkan semua orang karena di saat kita mencoba membuatnya senang bisa jadi mereka malah nggak senang.” Karena kepuasan seseorang itu gak ada batasnya. Pro kontra akan selalu ada. Kalau selalu mendengarkan kata orang gak akan ada habisnya.

Tapi kenapa aku jadi bersikap gini itu juga ada alasannya. Aku udah ngalamin yang namanya dibenci “penguasa sekolah” waktu SMP karena berusaha mempertahankan pendapatku. Aku nggak mau itu terulang dan aku pengin berteman sama semua orang. Aku nggak mau dianggap jelek. Aku nggak mau dihina terus. Padahal siapa yang tau kalo ada orang yang ngomongin kita di belakang???

Kalo dipikir2 lagi, dibenci itu nggak selamanya jelek kok. Kalo kita dibenci sama orang yang salah, itu bukti bahwa kita benar kan?

Well, mungkin mulai saat ini aku harus lebih TEGAS lagi. Jangan SOK MANIS dan CARI MUKA.

Eeerrgghh…tapi masalahnya bukan itu juga sih. Ketika kita ingin memperluas network, maka kita harus bersikap baik pada semua orang kan??? Terus gimana dong dengan prinsip kita? Apakah kita bisa tetap berteman dengan dua orang yang bermusuhan tanpa melukai salah satunya?

Apakah kita bisa tetap berteman dengan SEMUA GOLONGAN?
Apa salah kalau kita ingin menjadi orang yang NETRAL dan UNIVERSAL?
Apa gak boleh kalo kita gak masuk ke KELOMPOK APAPUN?

Aku cuma pengin jadi manusia saja. Tanpa embel2 apa2.

6 comments

  1. Hmmm… Honestly, I often feel like you. Kadang-kadang aku juga ngerasa terlalu “tidak menjadi diri sendiri” agar bisa diterima pergaulan. Terlalu takut kalo sendirian dan nggak punya teman. Ngga selalu kayak gitu sih, tapi sering.

    Bdw, aku kenal nggak y ama “penguasa sekolah” yg kamu maksud? M*****ewa kn?

    nb: kemaren bisa ngasi komen ke postingan gt lho.

  2. ya…aq juga pengen jadi seorang yang netral…bisa diterima di semau kalangan tanpa nampak berpihak….

    tapi untuk mewujudkan itu semua pastinya sangat banyak hambatan…..

  3. yuuhuu…
    akhirnya hatiku terbuka juga bwat ngasi comment,, mi’.. hohoho…

    aku jadi inget ama petuah (ceilee… kosakata ku makin lebay..) alias nasehat dari abah ku. tentang FILOSOFI IKAN LAUT. tau gak?? ikan hidup di air laut tapi dagingnya gak asin.. ‘tul kaan?? nah kayak ikan laut lah kita ngadepin orang lain.. kita hidup di mana aja sama sapa aja, tapi kita tetep jadi diri sendiri.. bisa nempel sana sini tanpa harus ngubah pendirian.. pas kita pengen memperluas network, kita emang kudu bersikap baik. tapi bersikap baik gak kudu lupa prinsip en jadi gak punya pendirian..

    gitu kata abah ku..

    aku yo pernah se kayak kamu gitu. nyaris berubah jadi bukan aku. tapi tetep enakan jadi diri sendiri kali’ yaa…. they love me just the way i am…

  4. itu manusiawi kok
    aku juga punya masalah yang sama
    manusia pada dasarnya memakai topeng untuk mempertahankan diri
    topeng2 itu berbeda pada setiap orang yang ditemui
    semua manusia seperti itu
    justru kamu mestinya senang ingin menjadi manusia univeral, artinya kamu mau menerima perbedaan setiap orang
    beda lo sama org yang cuma mau kumpul 1 golongan aja

    tentu saja minus ‘menyenangkan semua pihak’ karena tdk mungkin dilakukan.

    anggap aja kamu sedang ‘mempertahankan hidupmu’ bagaimana? toh semua orang sudah munafik pada dasarnya. Lebih baik sadar aku munafik dari pada tidak

    ahem~~
    serius mode off

    nyu :3

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *