Roxalen Reminds…

Ashya Mubin Arumbhi terpana menatap makhluk di hadapannya. Gadis kecil itu baru empat tahun dan ia baru saja mendapati mukjizat kedua muncul dalam hidupnya. Matanya yang besar hitam, khas wanita India, tak berkedip menatap seonggok keajaiban di telapak tangannya. Seekor bayi ikan yang luar biasa menakjubkan. Bayi itu tidak lebih besar dari telapak tangan Aaya. Ekornya putih keperakan, memendarkan pelangi saat cahaya matahari mengenainya. Ekor itu berkecipak lemah di tangannya, menimbulkan sensasi geli yang menyenangkan di kulit si gadis.

“Aduh, kau lucu sekali,” Aaya kecil tertawa senang. Namun ekor putih itu bukanlah keajaiban utama si bayi ikan. Semakin ke atas, sisik pada ekor itu semakin menipis, menyamar, hingga akhirnya berubah menjadi kulit. Kulit manusia lengkap dengan segala kerutannya. Lebih menakjubkan lagi, bayi ikan itu berkepala manusia. Betul-betul kepala bayi manusia. Matanya berbinar-binar lucu dan bibir mungilnya terus saja megap-megap seolah minta susu.

“Tapi…” Aaya kecil menatapnya ragu. “Kau ini apa, ya?” Gadis kecil itu berpikir sebentar. Kemarin ia baru saja mendapat mukjizat pertamanya. Saat bercermin, tiba-tiba ia mendapati bayangannya bisa berbicara. “Hai,” sapa bayangannya di dalam cermin. “Kau Ashya, kan? Aku Aysha, bayanganmu. Mulai hari ini kita akan menjadi teman dekat.”

Keajaiban rupanya belum berhenti. Belum selesai Aaya mereka-reka makhluk di hadapannya, bayi ikan itu tiba-tiba melompat dari tangannya. “Hei!” pekik Aaya. Bayi itu menyelam kembali ke laut, persis di dekat karang, tempat di mana Aaya menemukannya tergeletak berselimut pasir.

Seolah ditarik oleh pesona bayi ikan itu, tanpa sadar Aaya ikut melompat ke dalam laut. Di dalam air, bayi ikan itu masih berenang lincah di depannya. Aaya bermaksud meraihnya sebelum ia sadar bahwa ia tidak bisa berenang! Sungguh bodoh, ia masih empat tahun dan Ayah belum pernah mengajarinya berenang. Gadis kecil itu megap-megap meminta oksigen. Gaya gravitasi terus menariknya turun…tenggelam ke dasar…sekuat apapun ia berusaha menyentakkan kakinya menuju ke atas. Aku tidak bisa bernapas! Ayah, Ibu, tolong aku! Paru-parunya yang serasa terbakar memaksa kelenjar di ujung matanya mengeluarkan airmata. Meskipun toh tak ada gunanya karena ia sekarang berada di dalam air, menangis atau tidak tak akan ada bedanya.

Namun lagi-lagi keajaiban itu muncul. Saat hampir pingsan keracunan karbondioksida, seekor kepiting biru tiba-tiba muncul di dekatnya dan mencapit ujung jarinya seketika. Cukup sakit, tapi itu juga cukup untuk membuatnya tersadar kembali. Entah mengapa tiba-tiba aliran udara menerobos langsung ke paru-parunya. Melegakan. Air laut masih tetap ada di sana, namun entah bagaimana kini ia dapat menyerap oksigen di dalam air tersebut. Ia bisa bernapas! Ia menggerakkan tangan dan kakinya. Ringan! Ia bisa melayang! Ia tidak lagi terseret ke dasar laut. Buru-buru Aaya menoleh ke sekeliling dan mendapati ekor putih bayi ikan itu berenang jauh di depannya. Dengan semangat Aaya mengejarnya serupa kelincahan seekor lumba-lumba yang baru saja ia dapatkan.

Samudera Pasifik sangatlah luas. Bayi ikan itu berenang begitu cepat namun Aaya selalu dapat mengimbanginya. Kulitnya seakan menyatu dengan air di sekelilingnya. Begitu sejuk dan elastis. Ia bisa meliuk dengan cepat, tangkas, sungguh seakan terbang di angkasa bersih tanpa awan. Ia berenang dalam kecepatan tinggi, seperti warp di ruang antarplanet. Ini menyenangkan! pikirnya. Aaya terus berenang dengan senyum lebar terkembang—serupa layar perahu jauh di permukaan, tempat kedua orangtuanya sibuk mencari anak gadisnya yang tiba-tiba menghilang. Namun tentu saja Aaya tak mendengar teriakan mereka. Bayi ikan setengah manusia itu begitu menarik perhatiannya, dan kini ia hanya tinggal sejengkal saja dari ekor putihnya yang meliuk-liuk lucu.

Tangan Aaya menggapai-gapai mencoba meraihnya. Namun baru saja ujung jarinya menyentuh sisik keperakan itu, sebuah pemandangan luar biasa muncul di hadapannya. Dalam sekejap waktu di sekitarnya seolah berhenti. Untuk kesekian kalinya Aaya terpana. Dua hari terakhir ia telah mengalami rangkaian keajaiban tak masuk akal, namun inilah yang paling istimewa.
Sebuah karya arsitektur yang begitu megah berdiri menjulang di depannya. Sungguh tak menyangka bangunan menakjubkan itu bisa tertanam di sini, beribu-ribu mil di dasar Samudera Pasifik. Tempat itu tak terkatakan. Ada kubah besar di tengahnya, melengkung melindungi bangunan utama berupa lingkaran di bawahnya. Di sekeliling kubah koridor-koridor panjang silang menyilang mengitarinya. Koridor itu dilapisi ivies, tanaman merambat yang menjurai menutupi atap dan dindingnya. Dari kejauhan, bangunan itu serupa planetarium di dasar laut yang dikelilingi kebun percobaan.

“Ini…apa?” Aaya tak bisa menahan emosi. Menatap bangunan itu, rasanya seperti ada pisau-pisau rindu yang tiba-tiba menusuki hatinya. Rasanya seperti menatap rumah yang telah lama ditinggalkan. Rasanya seperti ada begitu banyak kenangan di tempat ini, tempat di mana ia selalu ingin kembali.

Roxalen.
Sebelas tahun kemudian, ia benar-benar kembali ke tempat itu lagi.

1 comment

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *