SHALAT BUKAN SEKEDAR KEWAJIBAN TAPI KEPERLUAN


JALAN MENUJU BAHAGIA

Setiap manusia pasti menginginkan kebahagiaan. Bila kita bertanya pada akal bagaimana untuk mendapatkan kebahagiaan, akal saja tak mampu untuk menjawab. Jika manusia hidup untuk mendapatkan harta, banyak manusia menderita bahkan bunuh diri karena harta. Jika manusia hidup untuk mencari bahagia melalui ilmu, banyak orang yang sesat, gelisah karena ilmunya. Begitu juga pangkat, kedudukan dan kemasyhuran jika dijadikan tujuan hidup, kita sudah melihat contoh-contoh, bagaimana itu semua tak dapat membahagiakan manusia.

Seperti halnya alat-alat yang direka cipta manusia, tentu manusia yang membuatnya yang paling tahu bagaimana alat itu dapat digunakan secara paling optimal. Karena itu sangatlah logik bila manusia, untuk mengetahui bagaimana ia dapat menjadi ’optimal’ dapat kebahagian yang hakiki, maka pada Allah lah ia sepatutnya bertanya.

Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, tidaklah membiarkan manusia yang diciptaNya hidup tanpa panduan.

Di dalam Al Quran Allah berfirman:

Artinya: ”Tidak Aku jadikan jin dan manusia itu melainkan untuk mengabdikan diri (menghambakan diri) kepadaKu”

Dalam ayat ini sebenarnya ada petunjuk dari Allah bahwa bila manusia inginkan kebahagian hendaknya manusia ’menghambakan’ dirinya pada Allah. Yang dimaksud menjadi hamba Allah dalam ayat ini bukan berarti hanya mengerjakan ibadah lahiriah saja atau hanya sekedar tahu diri kita hamba. Tapi Allah menghendaki manusia mempunyai sifat hamba. Hatinya merasa dirinya adalah hamba Allah, yang mempunyai rasa cinta dan takut pada Allah. Bila manusia sudah cinta pada Allah, tentulah ia menjadi manusia yang paling bahagia. Kesenangan atau ujian yang datang semua dia terima dengan hati yang lapang karena faham maksud Allah.

Allah yang maha berkasih sayang itu bukan saja Dia memberi tahu bahwa kunci kebahagian itu adalah menjadi hamba Allah, mempunyai rasa hamba, rasa cinta dan takut Allah, bahkan Allah juga memberi tuntunan jalan untuk mendapatkan rasa-rasa tersebut yaitu dengan cara beribadah kepadaNya. Jadi perintah ibadah bukanlah diberi pada manusia karena Allah memerlukan penyembahan dari manusia. Maha suci Allah dari memerlukan dari yang lain karena yang lain selain dari Allah adalah ciptaannya. Perintah ibadah pada manusia sesungguhnya adalah kasih sayang Allah, itulah jalan petunjuk dariNya agar manusia dapat menjadi manusia yang sebenarnya. Atau dengan kata lain ibadah itu adalah alat untuk akhirnya manusia mendapatkan rasa hamba, rasa cinta dan takut dengan Allah. Ibadah itu bukan sekedar kewajiban tapi ianya sangat diperlukan manusia untuk menempuh jalan menuju kebahagiaan yang hakiki.

FITRAH MANUSIA SUKA MENGHAMBAKAN DIRI

Manusia sifatnya suka menghambakan diri kepada tuannya yang menolong, melindungi dan yang memperhatikan dirinya. Atau dengan kata lain manusia rela mengabdikan diri kepada siapa yang dicintainya. Kalau kecintaannya itu perempuan maka ia akan menjadi hamba pada perempuan itu. Kalau cintanya atau pautannya pada nafsu yakni menurut kata nafsu, jadilah dia seorang hamba nafsu. Tapi aneh, manusia sangat marah kalau dijuluki ’hamba wanita’ atau ’hamba nafsu’. Fitrah seseorang menolak walaupun sikapnya memang betul seperti itu. Mengapa menolak sebutan demikian? Sebab fitrah manusia ingin menjadi hamba Allah. Dan keinginan menjadi hamba kepada selain Allah itu bukan fitrah.

Allah mau manusia menyembahNya dan bukan menyembah pada yang lain. Maka dijadikanlah fitrah manusia itu mempunyai rasa bertuhan dan menghambakan diri padaNya. Tanyakanlah pada orang-orang yang menyembah Allah atau tidak menyembah Allah, adakah dia ingin menyembah Allah dan suka pada orang – orang yang menyembah Allah. Niscaya mereka menjawab memang suka. Kalau mereka tidak melakukannya, itu karena mereka tak mampu melawan nafsu dan syaitan yang menghalangi dan yang melalaikan mereka. Kalaulah bukan karena nafsu dan syaitan, niscaya manusia ini akan senantiasa merindukan dan membesarkan Tuhannya dan sangat taat padaNya.

Perasaan pada fitrah untuk menghambakan diri pada Allah ini telah Allah tanam benihnya sejak manusia lahir ke dunia. Kemudian Rasul diutus untuk membawa perintah membenarkan apa yang ada dalam fitrah manusia, menyuburkan apa yang telah ada. Karena itulah Islam itu indah sebab memberi makanan pada roh, apa yang roh kehendaki. Itu yang dihidangkan daging, tiba-tiba terhidang daging, betapa indahnya. Kita suka ikan, dihidangkan ikan, betapa indahnya. Tapi ketika kita ingin daging dihidangkan lauk yang kita tidak suka, maka jadi tidak indah.

Begitulah sedikit uraian tentang indahnya Islam yang sesuai dengan fitrah manusia. Dan siapa yang tidak ikut cara hidup Islam sebenarnya baik dia sadar ataupun tidak, dia sedang menentang fitrahnya. Walaupun mereka kaya raya, mempunyai jabatan tinggi dan banyak ilmu, tidak akan tenang hidup mereka di dunia apalagi di akhirat. Karena bukan saja dia dengan dirinya sendiri. Pada lahirnya manusia tersebut nampak senang, tenang tapi hatinya hanya Allah saja yang tahu; kosong, gelisah, tersiksa, serba salah dan mudah marah

Oleh karena itu kita harap Allah beri kefahaman kepada kita untuk melihat dan merasa bahwa ibadah, terutama ibadah pokok yaitu sholat, adalah satu hadiah besar dari Allah untuk kita, bukan satu kewajiban yang membebankan atau untuk menyusahkan manusia.

Sumber : Abuya At-Tamimi

dikutip dari: http://www.muslimtionghoa.com/index.php?action=generic_content.main&id_gc=59

2 comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *