Habibie, N250, dan Kebanggaan Bangsa

Kelas 6 SD, seorang guru bertanya pada kami tentang pesawat buatan Indonesia. Spontan kami menjawab dengan lantang dan serempak, “CN235 dan N250!” Nama pesawat itu sudah kami hafal di luar kepala, tercantum di buku IPS terbitan Depdikbud, dan selalu diulang-ulang dalam soal ujian. Tapi guru tersebut malah sedikit apriori terhadap semangat kami. Dengan nada yang agak meremehkan, beliau berkata—yang kasarannya kira2 begini, “Halah, N250 itu lho pesawatnya kueciiilll, kalau dibandingkan sama Boeing ya kalah.”

Waktu itu kami cuma bocah SD yang tidak tahu apa-apa. Pesawat CN235 dan N250 diluncurkan saat kami masih balita, kami tidak tahu nasionalisme, dan kami tidak tahu soal perkembangan dunia. Tapi kemarin, saat pertama kalinya saya melihat video peluncuran pesawat N250 (di film Habibie-Ainun), saya baru sadar bahwa itu adalah sesuatu yang luar biasa. Tahun 1995, pesawat itu meluncur terbang ke angkasa. Rasa kagum, bangga, dan terharu bercampur jadi satu. Rasanya baru sadar bahwa anak Indonesia mampu membuat pesawat, dan itu  sesuatu yang hebat! Itu sesuatu yang sangat berharga, bukan hanya pada pesawatnya, tapi pada perjuangan kita untuk membangun harga diri bangsa.

Kita itu hebat sekali, dan kenapa kita tidak sadar kalau kita ini hebat, malah meremehkan kehebatan kita itu, dan menyembah kepada bangsa lain yang kita kira lebih hebat?

Kita ini sudah merdeka secara fisik, tapi mental kita masih terjajah. Mental kita masih mental pribumi yangterus merasa apriori terhadap kemampuan bangsa asing, dan tidak percaya pada kemampuan sendiri. Ada anak SMK di Jawa Tengah bisa bikin mobil, bukannya dipuji dan didukung, malah disepelekan. Ada orang Indonesia susah payah bikin pesawat sendiri, pabriknya malah ditutup, dan kita malah impor pesawat dari negara lain. Tidak ada sedikitpun usaha untuk menghargai jerih payah bangsa sendiri. Tidak ada sedikitpun keinginan untuk jadi bangsa mandiri, berdiri di atas kaki sendiri.

Kalau gitu terus kapan kita bisa maju?

Hei anak Indonesia, bangun! Kita ini elang yang memandang diri kita seperti ayam. Padahal kita bisa terbang, tapi enggak percaya kalau kita bisa terbang, jadinya kita cuma mondar-mandir mematuki cacing di tanah.

Bangun dan berjuanglah dengan rasa bangga, saya ini Indonesia.

http://www.facebook.com/notes/eko-sutrisno-alkautsar/kunjungan-habibie-ke-garuda-menangis-gan-baca-ini/10150533824529557

http://wiryanto.wordpress.com/2008/01/26/korea-saja-bisa-apalagi-indonesia/

4 comments

  1. wah gurumu itu kurang menghargai soal mimpi anak kecil berarti, mestinya gurumu iut memberikan gambaran yang lebih bagus tentang n250 sehingga menginspirasi para muridnya untuk dapat menciptakan sesuatu yang baru yang belum bangsa ini raih sehingga dapat mengharumkan nama bangsa

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *